Jagung merupakan komoditas pangan sumber karbohidrat kedua setelah beras, sangat penting untuk ketahanan pangan. Jagung juga berperan penting dalam industri pakan ternak dan industri pangan. Dalam kurun lima tahun terakhir, kebutuhan jagung nasional untuk bahan industri pakan, makanan dan minuman meningkat ±10%-15%/tahun.
Pengembangan jagung diarahkan untuk mewujudkan
Indonesia menjadi produsen jagung yang tangguh dan mandiri pada tahun 2025
dengan ciri-ciri produksi yang cukup dan efisien, kualitas dan nilai tambah
yang berdaya saing, penguasaan pasar yang luas, meluasnya peran stakeholder,
serta adanya dukungan pemerintah yang kondusif. Dalam periode 2005-2025,
produksi jagung nasional diproyeksikan rata-rata tumbuh sebesar 4,26%.
Jagung banyak diolah dalam bentuk tepung, makanan
ringan atau digunakan untuk bahan baku pakan ternak. Hampir seluruh bagian
tanaman dapat dimanfaatkan untuk keperluan manusia baik langsung maupun tidak
langsung
Klasifikasi ilmiah
- Kerajaan : Plantae
- Divisio : Monocots
- Classis : Commelinids
- Ordo : Poales
- Famili : Poaceae
- Genus : Zea
- Spesies : Z. mays
- Nama : binomial
Lingkungan
Budidaya Tanaman Jagung
v Iklim
Iklim sedang hingga daerah beriklim basah.
·
Pada lahan tidak beririgasi, curah hujan ideal 85-200 mm/bulan dan harus
merata.
·
Sinar matahari cukup dan tidak ternaungi
·
Suhu 21-340C, optimum 23-270C. Perkecambahan benih memerlukan
suhu ± 300C.
v Media Tanam
Tanah gembur, subur dan kaya humus.
·
Jenis tanah: andosol, latosol, grumosol, dan tanah berpasir. Tanah grumosol
memerlukan pengolahan tanah yang baik. Tanah terbaik bertekstur
lempung/liat berdebu.
·
pH tanah 5,6 - 7,5.
·
Aerasi dan ketersediaan air dalam kondisi baik.
·
Kemiringan ≤ 8%, lahan miring > 8%, perlu di
teras.
·
Tinggi tempat 1.000-1800 m dpl, optimum 0-600 m
dpl.
Teknologi Budidaya
v Penyiapan Benih
1)
Persyaratan Benih
·
Bermutu tinggi, baik mutu genetik, fisik maupun fisiologinya.
·
Berasal dari varietas unggul (daya tumbuh besar, murni, tidak mengandung
kotoran, tidak tercemar hama dan penyakit). Benih yang terjamin adalah benih
bersertifikat.
Jagung hibrida berpotensi produksi tinggi, namun
mempunyai kelemahan yaitu harga benih lebih mahal, dapat digunakan maksimal 2
kali turunan.
Tabel 1. Beberapa Contoh Varietas Jagung Hibrida
Varietas
|
Umur
|
Potensi Hasil
(Ton/ha)
|
Rata- rata Hasil (Ton/ha)
|
C6
|
98-105
|
-
|
10-10,3
|
C7
|
95-105
|
10-12,4
|
8,1
|
Pioneer 13
|
90-115
|
10-11
|
8,027
|
Pioneer 14
|
89-112
|
10-11
|
7,578
|
CPI -1
|
97
|
-
|
6,2
|
CPI- 2
|
97
|
8-9
|
6,2
|
IPB 4
|
100-105
|
-
|
6,6
|
Semar 2
|
91
|
-
|
5,0-6,1
|
Semar 3
|
94
|
8-9
|
5,3
|
2) Penyiapan Benih
·
Benih jagung komposit
dapat diperoleh dari penanaman sendiri, dari jagung yang tumbuh sehat.
·
Dari tanaman terpilih, diambil jagung yang
tongkolnya besar, barisan biji lurus dan penuh tertutup rapat oleh klobot, dan
tidak terserang oleh hama penyakit.
·
Tongkol dipetik
setelah lewat fase matang fisiologi dengan ciri: biji mengeras dan sebagian
besar daun menguning.
·
Tongkol dikupas dan
dikeringkan, bila benih akan disimpan dalam jangka lama, setelah dikeringkan
tongkol dibungkus dan disimpan di tempat kering.
·
Dari tongkol kering,
diambil biji bagian tengah. Biji di bagian ujung dan pangkal tidak digunakan
sebagai benih.
·
Daya tumbuh benih lebih dari 90%. Benih yang
dibutuhkan adalah sebanyak 20-30 kg/ha.
3) Perlakuan Benih
Sebelum benih ditanam, sebaiknya dicampur dengan fungisida, terutama
apabila diduga akan ada serangan jamur. Bila diduga akan ada serangan lalat
bibit dan ulat agrotis, sebaiknya benih dimasukkan ke dalam lubang bersama-sama
dengan insektisida butiran dan sistemik.
Pengolahan Media Tanam
Pengolahan tanah bekas pertanaman padi dilaksanakan
setelah membabad jermi. Jerami dapat digunakan sebagai mulsa/penutup tanah
setelah jagung ditanam. Kegunaan mulsa yaitu mengurangi penguapan tanah,
menghambat pertumbuhan gulma, menahan pukulan air hujan dan lama kelamaan mulsa
menjadi pupuk hijau. Pengolahan tanah pada lahan kering cukup sampai dengan
kedalaman 10 cm dan semua limbah digunakan sebagai mulsa.
Pada saat pengolahan tanah setiap 3 m perlu
disiapkan saluran air sedalam 20 cm dan lebar 30 cm yang berfungsi untuk
memasukkan air pada saat kekurangan air dan pembuangan air pada saat air
berlebih.
Tanah dengan pH kurang dari 5,0, harus dikapur 1
bulan sebelum tanam. Jumlah kapur yang diberikan 1-3 ton/ha untuk 2-3 tahun
disebar merata atau pada barisan tanaman, Dapat pula digunakan dosis 300 kg/ha
per musim tanam dengan cara disebar pada barisan tanaman atau menggunakan
mineral zeolit dengan dosis sesuai dengan petunjuk produsen.
1). Minimum Tillage
Pada lahan-lahan yang peka terhadap erosi, budidaya
jagung perlu diikuti dengan usaha-usaha konservasi seperti penggunaan mulsa dan
sedikit mungkin pengolahan tanah. Bila waktu tanam mendesak, pengolahan tanah
dapat dilakukan hanya pada barisan tanaman saja, selebar 60 cm dengan kedalaman
15 – 20 cm
2). Zero Tillage (tanpa pengolahan tanah)
Pemberantasan gulma menggunakan herbisida 2-3
lt/ha. Tanah dicangkul hanya untuk lubang tanaman.
Teknik Penanaman
1) Penentuan Pola Tanaman
·
Tumpang sari (Intercropping); Penanaman lebih dari 1 tanaman (umur
sama atau berbeda).
·
Tumpang gilir (Multiple Cropping), dilakukan secara beruntun
sepanjang tahun dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain untuk mendapat
keuntungan maksimum.
·
Tanaman bersisipan (Relay Cropping): dengan cara menyisipkan
satu/beberapa jenis tanaman selain jagung. Misalnya
waktu jagung menjelang panen disisipkan kacang panjang.
· Tanaman Campuran (Mixed Cropping): penanaman
terdiri atas beberapa tanaman dan tumbuh tanpa diatur jarak tanam maupun
larikannya. Pada pola ini lahan efisien, tetapi riskan terhadap
hama dan penyakit.
2) Pembuatan Lubang Tanam
Lubang tanam dibuat dengan tugal sedalam 3-5 cm,
tiap lubang diisi 1 butir benih. Jarak tanam disesuaikan dengan umur panen.
Jagung berumur ≥ 100 hari jarak tanam 40 x 100 cm
(2 tanaman /lubang). Jagung berumur 80-100 hari, jarak tanamnya 25 x 75 cm (1
tanaman/lubang). Sedangkan jagung. berumur < 80 hari, jarak tanam
20 x 50 cm (1 tanaman/lubang).
Tabel 2. Jarak tanam
dan Populasi Jagung Per Hektar
Varietas
|
Jarak tanam
(cm x cm)
|
Populasi
(Tanaman/Ha)
|
Umur dalam
(>100 hari)
|
100 x (40-50)
|
40.000 – 50.000
|
Umur tengah
(90-100 hari)
|
75 x (40-50)
|
53.000 - 66.000
|
Umur genjah
(80-90 hari)
|
50 x (20-25)
|
80.000 – 100.000
|
3) Cara Penanaman
Saat tanam tanah dalam keadaan lembab dan tidak tergenang. Apabila tanah
kering, perlu diairi, kecuali bila diduga 1-2 hari lagi hujan akan turun.
Jumlah benih per lubang tergantung keinginan, bila dikehendaki 2 tanaman per
lubang maka benih yang dimasukkan 3 biji/lubang, bila dikehendaki 1
tanaman/lubang, maka benih yang dimasukkan 2 biji/lubang.
Tabel 3 Jarak Tanam dan Kebutuhan Benih Jagung
Jarak tanam
(cm)
|
Non Hibrida
(kg/ha)
|
Hibrida
(kg/ha)
|
100 x 40
|
22,5
|
-
|
75 x 25
|
32
|
20
|
75 x 40
|
-
|
30 – 40
|
75 x 20
|
40
|
-
|
50 x 20
|
60
|
-
|
Di lahan irigasi jagung ditanam pada musim kemarau. Di sawah tadah hujan
ditanam pada akhir musim hujan. Di lahan kering ditanam pada awal musim hujan
dan akhir musim hujan.
Pemeliharaan
1) Penjarangan dan Penyulaman
Apabila dalam 1 lubang tumbuh 3 tanaman dan hanya dikehendaki 2 atau 1,
tanaman yang tumbuh paling tidak baik, dipotong dengan pisau atau gunting yang
tajam tepat di atas permukaan tanah. Pencabutan tanaman secara langsung tidak
boleh dilakukan, karena akan melukai akar tanaman lain.
Benih yang tidak tumbuh/mati perlu disulam, kegiatan ini dilakukan 7-10
hari sesudah tanam. Penyulaman menggunakan benih dari jenis yang sama.
2) Penyiangan
Penyiangan dilakukan 2 minggu sekali. Penyiangan pada tanaman muda
menggunakan tangan, cangkul kecil, garpu. Penyiangan harus hati-hati agar tidak
mengganggu perakaran yang belum kuat mencengkeram tanah.
3) Pembumbunan
Pembumbunan bersamaan dengan penyiangan dan pemupukan pada umur 6 minggu.
Tanah di kanan dan kiri barisan jagung diurug dengan cangkul, kemudian ditimbun
di barisan tanaman, membentuk guludan memanjang. Pembubunan juga dilakukan
bersamaan penyiangan kedua.
4) Pemupukan
Pemupukan perlu memperhatikan jenis, dosis, waktu dan cara pemberian pupuk.
Pada umumnya varietas unggul lebih banyak memerlukan pupuk dibandingkan dengan
varietas lokal.
Tabel 4 Dosis dan Waktu
Pemberian Pupuk pada Tanaman Jagung
No
|
Jenis
|
Dosis
(kg/ha)
|
Waktu pemberian
|
||
Dasar
|
21 HST
|
35 HST
|
|||
(kg/ha)
|
(kg/ha)
|
(kg/ha)
|
|||
1
|
Non Hibrida
|
||||
- Urea
|
200
|
83,33
|
166,67
|
-
|
|
- TSP/SP-36
|
75-100
|
75-100
|
-
|
-
|
|
- KCL
|
50
|
50
|
-
|
-
|
|
2
|
Hibrida
|
-
|
-
|
||
- Urea
|
300
|
100
|
100
|
100
|
|
- TSP/SP-36
|
100
|
100
|
-
|
-
|
|
- KCL
|
50
|
50
|
-
|
-
|
|
Pertanaman jagung perlu dipupuk dengan pupuk organik 15.000-20.000kg/ha
disebar merata saat pengolahan tanah atau disebar dalam larikan dengan dosis
300 kg/ha.Pupuk buatan diberikan secara tugal/larikan sedalam ± 10 cm
pada kedua sisi tanaman dengan jarak 7 cm. Pada jarak tanam yang rapat pupuk
dapat diberikan di dalam larikan yang dibuat di kiri kanan barisan tanaman.
5) Pengairan dan Penyiraman
Setelah benih ditanam, dilakukan penyiraman secukupnya, kecuali bila tanah
telah lembab. Pengairan diperlukan pada saat pembentukan malai dan tongkol.
Pemberian air pada pertanaman jagung cukup sampai tingkat kapasitas lapang atau
tidak sampai tergenang.
Pertanaman jagung yang terlalu kering dapat diairi melalui saluran
pemasukan air. Air yang diberikan cukup hanya menggenangi selokan yang ada,
dibiarkan satu malam dan pada pagi harinya sisa air dibuang.
Hama dan penyakit
v
Hama
a) Lalat bibit (Atherigona exigua Stein):
Gejala: daun kekuning-kuningan; di sekitar bagian terserang terjadi
pembusukan, akhirnya tanaman layu, pertumbuhan kerdil atau mati. Penyebab:
lalat bibit dengan ciri-ciri warna lalat abu-abu, warna punggung kuning
kehijauan dan bergaris, warna perut coklat kekuningan, warna telur putih
mutiara, dan panjang lalat 3-3,5 mm.
Pengendalian: (1) penanaman serentak dan pergiliran tanaman; (2) tanaman
terserang dicabut dan dimusnahkan, agar hama tidak menyebar; (3) kebersihan
areal dijaga dan diperhatikan terutama dari tanaman inang; (4) pengendalian
secara kimiawi menggunakan insektisida efektif.
b) Ulat
pemotong
Gejala: tanaman terserang terpotong beberapa sentimeter di atas permukaan
tanah ditandai dengan bekas gigitan pada batang, akibatnya tanaman jagung muda
roboh di atas tanah. Penyebab: beberapa jenis ulat pemotong: Agrotis sp. (A.
ipsilon); Spodoptera litura, penggerek batang jagung (Ostrinia
furnacalis), dan penggerek buah jagung (Helicoverpa armigera).
Pengendalian: (1) tanam serentak
pada areal yang luas dan pergiliran tanaman; (2) mencari dan membunuh ulat yang
biasanya terdapat di dalam tanah; (3) sebelum lahan ditanami jagung, disemprot
dengan insektisida.
v
Penyakit
a) Penyakit bulai (Downy mildew):
Penyebab: cendawan Peronosclerospora maydis dan P. spora javanica
serta P. spora philippinensis. merajalela pada suhu diatas 270C
dan udara lembab. Gejala: (1) pada tanaman berumur 2-3 minggu, daun runcing,
kecil, kaku dan pertumbuhan terhambat, warna menguning, sisi bawah daun
terdapat lapisan spora cendawan warna putih; (2) pada tanaman berumur 3-5
minggu, tanaman terserang mengalami gangguan pertumbuhan, daun berubah warna
dimulai dari bagian pangkal daun, tongkol berubah bentuk dan isi; (3) pada
tanaman dewasa, terdapat garis-garis kecoklatan pada daun tua.
Pengendalian: (1) penanaman awal musim hujan; (2) pola tanam dan pola pergiliran
tanaman, penanaman varietas unggul; (3) tanaman terserang, kemudian
dimusnahkan.
b)
Penyakit bercak daun (Leaf
bligh).
Penyebab:
cendawan Helminthosporium turcicum. Gejala: pada daun tampak bercak
memanjang dan teratur berwarna kuning dan dikelilingi warna coklat, bercak
berkembang dan meluas dari ujung daun hingga ke pangkal daun, semula bercak
tampak basah, kemudian berubah warna menjadi coklat kekuning- kuningan,
kemudian berubah menjadi coklat tua. Akhirnya seluruh permukaan daun berwarna
coklat.
Pengendalian:
(1) pergiliran tanaman guna menekan meluasnya cendawan; (2) mekanis dengan
mengatur kelembaban lahan agar kondisi lahan tidak lembab; (3) kimiawi dengan
fungisida.
c) Penyakit karat (Rust) ;
Penyebab: cendawan Puccinia sorghi Schw dan Puccinia polypora
Underw. Gejala: pada tanaman dewasa yaitu pada daun yang sudah tua terdapat
titik-titik noda yang berwarna merah kecoklatan seperti karat serta terdapat
serbuk yang berwarna kuning kecoklatan, serbuk cendawan kemudian berkembang dan
memanjang, akhirnya karat dapat berubah menjadi bermacam-macam bentuk.
Pengendalian: (1) mengatur kelembaban pada areal tanam; (2) menanam
varietas tahan; (3) melakukan sanitasi (4) kimiawi menggunakan pestisida
seperti pada penyakit bulai dan bercak daun.
d) Penyakit gosong bengkak (Corn smut/boil smut);
Penyebab: cendawan Ustilago maydis (DC) Cda, Ustilago zeae (Schw)
Ung, Uredo zeae Schw, Uredo maydis DC. Gejala: pada tongkol
ditandai dengan masuknya cendawan ini ke dalam biji sehingga terjadi
pembengkakan dan mengeluarkan kelenjar (gall), pembengkakan ini menyebabkan
pembungkus terdesak hingga pembungkus rusak dan kelenjar keluar dari pembungkus
dan spora tersebar.
Pengendalian: (1) mengatur kelembaban areal pertanaman jagung dengan cara
pengeringan dan irigasi; (2) memotong bagian tanaman kemudian dibakar; (3)
benih yang akan ditanam dicampur dengan fungisida secara merata.
e) Penyakit busuk tongkol dan busuk biji;
Penyebab: cendawan Fusarium atau Gibberella antara lain Gibberella
zeae (Schw), Gibberella fujikuroi (Schw), Gibberella moniliforme.
Gejala: dapat diketahui setelah membuka pembungkus tongkol, biji-biji
jagung berwarna merah jambu atau merah kecoklatan kemudian berubah menjadi
warna coklat sawo matang.
Pengendalian: (1) menanam jagung
varietas unggul, dilakukan pergiliran tanam, mengatur jarak tanam, perlakuan
benih; (2) penyemprotan dengan fungisida setelah ditemukan gejala serangan.
Panen
v
Ciri dan Umur Panen
Umur panen jagung tergantung pada varietas yang ditanam, tetapi biasanya 2
bulan setelah 50% keluar rambut. Ciri tanaman jagung yang siap dipanen adalah:
o Klobot kering berwarna kuning
o Bila dikupas biji mengkilap.
o Bila biji ditekan dengan kuku tidak berbekas.
o Terdapat bintik hitam pada bagian biji yang melekat
pada tongkol.
v Cara Panen
o Sebelum dipanen dapat dilakukan pemangkasan batang
bagian atas untuk menurunkan kadar air tonggol disertai dengan pengupasan
klobot sebagian atau seluruhnya.
o Cara panen dengan memutar tongkol berikut kelobotnya,
atau dengan mematahkan tangkai buah. Pada lahan yang luas dan rata bisa menggunakan alat mesin pemetikan.
Pasca Panen
v Pengupasan
Jagung dikupas pada saat masih menempel di batang atau setelah di petik.
Pengupasan dilakukan untuk menjaga agar kadar air di dalam tongkol dapat
diturunkan dan kelembaban di sekitar biji tidak menimbulkan kerusakan atau
mengakibatkan tumbuhnya cendawan. Pengupasan dapat memudahkan atau memperingan
pengangkutan selama proses pengeringan.
v Pengeringan
Pengeringan jagung dapat dilakukan secara alami atau buatan. Secara
tradisional jagung dijemur di bawah sinar matahari sampai kadar air 9–11%.
Penjemuran memakan waktu ± 7-8 hari. Penjemuran dapat dilakukan di lantai,
dengan alas anyaman bambu atau dengan cara diikat dan digantung.
Pengeringan buatan pada musim hujan dilakukan dengan mesin pengering, Suhu
pengeringan 38-430 C, sehingga kadar air turun menjadi 12-13%.
Penundaan waktu pengeringan selama 2 hari dapat meningkatkan kontaminasi Aspergilus
flavus yang dapat meningkatkan alfa toxin yang dapat meracuni
manusia dan hewan.dari 14 pbb menjadi 94 pbb (ambang batas Aspergilus flavus
menurut FAO 30 (pbb).
v Pemipilan
Setelah dijemur sampai kering jagung dipipil menggunakan tangan atau alat
pemipil bila jumlah produksi cukup besar. Untuk memudahkan pekerjaan pemipilan
dilakukan pada tongkol kering dan kadar air bji 18%-20%.
v Penyimpanan
a) Tempat Penyimpanan
·
Letak gudang
strategis, arah bangunan membujur dari barat ke timur sehingga luas dinding
yang tertimpa sinar dapat dikurangi dan gudang tetap dalam kondisi dingin.
·
Guna menghindari serangan hama, gudang dibersihkan. Kontruksi gudang perlu
diperhatikan dari kemungkinan kebocoran, sirkulasi udara yang cukup dan
keamanan.
·
Ventilasi gudang harus cukup sehingga suhu dalam tetap stabil dan
merata.
·
Tempat penyimpanan berlantai dilengkapi lantai palsu dengan tinggi minimal
15 cm, sehingga jagung tidak kontak langsung dengan lantai.
·
Hindari celah pada dinding yang dapat dijadikan persembunyian hama.
·
Sekeliling gudang bersih dari semak agar tidak dimanfaatkan tikus untuk
memanjat, dan gudang tidak lembab.
b) Penyimpanan untuk
benih :
·
Bentuk tongkol
berkelobot, jagung di gantung di para-para dengan pengasapan tiap hari.
·
Bentuk pipilan,
setelah dicampur dengan abu kering, biji bungkus rapat-rapat dengan plastik
kedap udara, kemudian simpan dalam wadah dan ditutup. Wadah dapat berupa
semacam silo kayu atau drum. Jika kadar air biji 10%, maka campuran abu tidak
diperlukan.
c) Penyimpanan untuk
konsumsi :
Untuk bentuk
pipilan dengan kadar air 12%, jagung dibungkus secara rapat dengan plastik
kedap udara atau kaleng, atau dibungkus dengan plastik dilapisi karung dan
disimpan dalam tempat bersih dan kering.
Pewadahan
a) Tujuan
·
Memudahkan penanganan (pemindahan dan penyimpanan).
·
Perlindungan dari cuaca diharapkan
pengemasan dapat melindungi biji.jagung dari cuaca luar yang merugikan misalnya
kelembaban udara yang tinggi, bocoran hujan dll.
·
Perlindungan dari gangguan hama selama penyimpanan.
·
Perlindungan dari
gangguan cendawan.
·
b) Bahan kemasan yang
dapat digunakan; kantung plastik, kertas, karung, atau wadah yang kaku.
c) Persyaratan bahan
·
Bahan pengemasan
sebaiknya dapat ditembus udara sehingga kebutuhan udara biji dapat dipenuhi dan
kelebihan asam dapat dibuang.
·
Mudah didapat dan
relatif murah.
·
Dapat digunakan berulang ulang.
·
Dapat menghemat ruangan.
Penyortiran dan Penggolongan
Setelah
dipipil, biji jagung dipisahkan dari sisa-sisa tongkol, biji kecil, biji pecah,
biji hampa, dan kotoran Tindakan ini sangat bermanfaat untuk
menghindari/menekan serangan jamur dan hama selama dalam penyimpanan.
Bahan benih
membutuhkan keseragaman bentuk dan ukuran biji, sehingga pemisahan sangat
penting. Ada berbagai cara membersihkan atau memisahan jagung dari campuran
kotoran namun demikian pemisahan dengan cara ditampi akan mendapatkan hasil
yang baik.
Standar Produksi
v Ruang Lingkup
Standar produksi
tanaman jagung meliputi: standar klasifikasi, syarat mutu, cara pengambilan
contoh, cara uji, syarat penandaan, pengemasan dan rekomondasi.
v Diskripsi
Standar mutu jagung di Indonesia tercantum dalam Standar Nasional Indonesia
SNI 01-03920-1995.
v Klasifikasi dan Standar
Mutu
Berdasarkan warnanya, jagung kering dibedakan menjadi :
·
Jagung kuning adalah jagung yang sekurang-kurangnya 90% bijinya berwarna
kuning).
·
Jagung putih adalah jagung yang sekurang-kurangnya 90% bijinya berwarna
putih.
·
Jagung campuran adalah jagung yang tidak memenuhi kedua syarat tersebut.
a) Syarat Umum.
·
Bebas hama dan penyakit.
·
Bebas bau busuk, asam, atau bau asing lainnya.
·
Bebas dari bahan kimia, seperti: insektisida dan fungisida.
·
Memiliki suhu normal.
b) Syarat Khusus.
Jagung berkualitas harus memenuhi syarat khusus seperti terlihat pada tabel
5.
Komponen mutu
|
Mutu
|
|||
I
|
II
|
III
|
IV
|
|
Kadar air maksimum
(%)
|
14
|
14
|
15
|
17
|
Butir rusak maksimum
(%)
|
2
|
4
|
6
|
8
|
Butir warna lain
maksimum (%)
|
1
|
3
|
7
|
10
|
Butir pecah maksimum
(%)
|
1
|
2
|
3
|
3
|
Kotoran maksimum (%)
|
1
|
1
|
2
|
2
|
Untuk
mendapatkan standar mutu yang disyaratkan maka dilakukan beberapa pengujian
diantaranya:
o Penentuan adanya hama dan penyakit, dilakukan
secara organoleptik kecuali adanya bahan kimia dengan menggunakan indera pengelihatan
dan penciuman serta dibantu dengan peralatan dan cara yang diperbolehkan.
o Penentuan adanya butir rusak, warna lain, kotoran
dan butir pecah dilakukan secara manual dengan pinset. Contoh uji 100
gram/sampel. Persentase butir-butir warna lain, butir rusak, butir pecah,
kotoran ditetapkan berdasarkan berat tiap komponen dibandingkan berat contoh
analisa x 100 %.
o Penentuan kadar air biji ditentukan dengan Moisture
Tester Electronic atau ”Air Oven Methode” (ISO/r939-1969E atau OACE 930.15).
Penentuan kadar aflatoxin adalah racun hasil metabolisme cendawan Aspergilus
flavus, Aflatoxin disini adalah jumlah semua jenis aflatoxin yang
terkandung dalam biji-biji kacang tanah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar