Kacang hijau merupakan salah satu prioritas pengembangan dan peningkataan produksi disamping komoditas pangan lainnya. Prospek pengembangan kacang hijau cukup bagus, mengingat permintaan yang hampir selalu meningkat setiap tahun kecuali pada tiga tahun tertentu (1991, 1994, 1997) yang pertumbuhannya negatif. Untuk memenuhi kebutuhan kacang hijau dalam negeri, setiap tahun pemerintah Indonesia harus mengimpor kacang hijau sejumlah 309 - 73.191 ton per-tahun. Sementara produksi kacang hijau yang dihasilkan secara nasional baru mencapai sekitar 237.447 357.991 ton per-tahun.
Pertumbuhan kacang hijau memerlukan
iklim panas sehingga biassanya ditanam pada musim kemarau setelah tanaman padi.
Kacang hijau dapat tumbuh pada berbagai tipe tanah, tetapi paling cocok pada
tanah lempung atau liat sampai lempung yang mempunyai kandungan bahan organik
tinggi dan pH tanah 5,5-6,5. Pada lahan bekas tanaman palawija yang mempunyai
jenis OPT yang sama dengan kacang hijau, sisa-sisa tanaman merupakan tempat
bertahannya cendawan tetentu yang akan menjadi sumber infeksi tanaman inang
berikutnya (kacang hijau). Selain itu terdapat pula populasi hama yang
merupakan sumber serangan yang perlu diwapadai.
Taksonomi tanaman kacang hijau(Vigna radiata) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plant Kingdom
Divisio :
Sprmatophyta
Class :
Dycotyledonae
Ordo : Polypetalae
Famili :
Papilionidae
Genus :
Vigna
Spesies
: Vigna radiata
Penyakit pada tanaman adalah terjadinya perubahan
fungsi sel dan jaringan inang sebagai akibat gangguan yang terus menerus oleh
agensi pathogen atau faktor lingkungan dan berkembangnya gejala. Dari
sudut adalah Ketidak mampuan tumbuhan
untuk memberi hasil yang cukup kuantitas maupun kualitasnya. Berdasarkan faktor
penyebabnya penyakit dibagi atas 2 yaitu faktor abiotik adalah penyakit yang
disebabkan oleh penyakit fisiologis atau
non infektif dikarenakan Keadaan tanah (kelembaban, struktur, reaksi tanah,
kahat oksigen, kahat unsure hara, toksisitas pestisida, Keadaan cuaca (suhu
tinggi atau rendah, kekurangan atau kelebihan cahaya, angin hujan), dan
Kerusakan (kultur teknis yang salah). Faktor biotik Sering disebabkan penyakit
infektif.Disebabkan oleh pathogen berupa : Jamur, baktei, mikoplasma, virus,
viroid, nematode, protozoa, tanaman tingkat tinggi.
Tanaman kacang hijau memiliki batang
yang berbentuk bulat dan berbuku-buku. Pada tiap buku menghasilkan satu tangkai
daun, kecuali pada daun pertama berupa sepasang daun yang berhadapan dan
masing-masing berupa daun tunggal dan bertangkai biasanya disebut dengan epikotil.
Beberapa faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan kacang hijau antara lain varietas, suhu, curah hujan, lama
penyinaran, tinggi tempat, keadaan tanah dan cara budidayanya. Kacang hijau
tumbuh baik didaerah iklim tropis pada suhu sekitar 28 -30 0C. Curah
hujan optimal untuk pertumbuhan kacang hijau sekitar antara 700 - 900 mm/tahun.
Walaupun demikian kacang hijjau masih dapat tumbuh dengan memanfaatkan kelembaban
tanah dan air tanah sebelumnya, sehingga kacang hijau dikenal dengan tanaman
yang toleran terhadap kekeringan. Kacang hijau dapat tuumbuh pada daerah
dataran rendah sampai pada ketinggian 800 m dpl.
Kacang hijau dapat hidup pada
berbagai jenis tanah,terutama pada tanah yang gumbur,memiliki drainnase
baik,mempunyai kapasitas menahan air yang tinggi dan memiliki pH 5,5 -6,5.
Walaupun demikian kacang hijau masih dapat pula tumbuh pada tanah yang agak
masam berstuktur lempung, tanah alkalis maupun salin
Hama yang sering menyerang tanaman kacang hijau dalah agromyza phaseolli (lalat kacang) meruca
testualitis, spidoptera sp, Plusia chalsites (ulat) dan kutu trips. Lalat
Kacang atau lalat Bibit ( Ophiomyaphaseoli
) ; kerusakan terjadi karena lalat menggerek keping biji yang baru muncul
diatas tanah dan daun pertama. Biasanya tanaman yang diserang pada umur 4- 10
hari akan mati.
Pengendalian dengan menggunakan Insektisida seperti Marshal 25 ST dan Furadan 3 G.
Pengendalian dengan menggunakan Insektisida seperti Marshal 25 ST dan Furadan 3 G.
Gejala serangan pada tanaman kacang hijau yaitu gejala awal
berupa bercak-bercak pada keping biji atau daun pertama. Bercak ini merupakan
tempat peletaka telur. Selanjutnya terlihat liang gerek pada keping biji atau
daun pertama. Ketika polong yang diserang gugur, larva sudah berada di dalam
batang. Pada saat larva telah berada di pangkal akar daun mulai layu dan
kekuning-kuningan. Tanaman akan mati berumur 3-4 minggu. Jika tanaman tersebut
dicabut akan didapati larva, pupa, atau kulit pupa di antara akar dan kulit
akar. Tanaman yang terserang dan masih tetap hidup menampakkan akar-akar
adventif di bagian terbawah dari batang.
Sejauh
yang diketahui, serangannya tidak sehebat pada tanaman kedelai. Hal ini
disebabkan karena keping biji kacang hijau yang masih muda mudah rontok ketika
diserang sehingga tidak memberi kesempatan pada serangga tersebut untuk
bertelur.
Lalat kacang (Agromyza
phaseoli Caq.) sebagai penyebab. Tubuhnya kecil dan berwarna hitam
mengilap. Perkawinannya (kopulasi) biasa terjadi antara pukul 09.00@10.00 pagi.
Waktu matahari bersinar terik, lalat ini bersembunyi di dalam rumput di dekat
tanaman kacang hijau. Lalat kacang bertelur pada pagi hari. Telurnya diletakkan
pada keping biji atau pada daun pertama.
Setelah
telur menetas, belatungnya menggerek dan memakan keping biji atau daun sehingga
terbentuk liang. Belatung ini akan terus menggerek ke tangkai daun dan masuk ke
dalam batang sampai pangkal akar, Kepompong atau pupanya berwarna cokelat
kuning. Pada setiap batang tanaman yang diserang rata-rata terdapat 4-5 pupa.
Pengendalian dapat dilakukan dengan menggunakan musuh alami Agromyzae
Dodd, Eurytoma poloni, Eurytoma sp., dan Cynipid. Selain itu, dapat
pula dilakukan penyemprotan insektisida pada pagi hari, pada saat umur tanaman
4-10 HST.
Pengendalian hama
perusak daun dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain sebagai berikut: 1. Penanaman serentak
sehingga periode vegetatif terjadi secara serempak. 2. Pengolahan tanah
secara baik untuk mematikan hama yang berada di dalam tanah. 3. Pemusnahan kelompok
telur yang ditemukan. 4. Pengamatan dini untuk menentukan
penanggulangan dengan insektisida. Batas ambang
ekonomi penggunaan insektisida untuk menanggulangi ulat grayak, ulat jengkal,
ulat penggulung daun, ulat pelipat daun, dan kumbang tanah kuning adalah 58
ekor instar 1 atau 32 ekor instar 2 atau 17 ekor instar 3 per 12 tanaman. Batas
ambang ekonomi penggunaan insektisida untuk menanggulangi kumbang kedelai
adalah adanya intensitas serangan lebih dari 2 % pada umur tanaman 45 hari setelah
tanam.
Beberapa penyakit tersebut mempunyai ciri yang berbeda-beda.
Hal yang membedakannya yaitu: patogen penyebabnya, gejala yang ditimbulkan,
serta cara pengendaliannya. Faktor yang mendukung penyakit yang disebabkan oleh
cendawan diantaranya adalah faktor kelembaban yang berguna untuk pertumbuhan
dan perkecambahan spora. Selain itu, faktor lain yang mempengaruhi adalah angin
yang membantu dalam penyebaran spora. Sedangkan faktor yang mendukung
penyebaran penyakit yang disebabkan oleh virus adalah serangga vektor.
Penyakit busuk batang Sclerotium disebabkan oleh cendawan
Sclerotium rolfsii. Tanaman yang terserang Sclerotium rolfsii akan menimbulkan
gejala layu mendadak. Gejala lanjut penyakit ini, pada bagian pangkal batang
dan di permukaan tanah sekelilingnya terdapat benang-benang miselium seperti
bulu, membentuk banyak sklerotium yang semula berwarna putih, kemudian menjadi
berwarna coklat, sebesar biji sawi. Penyakit ini dapat dikendalikan dengan
beberapa cara, diantaranya menanam varietas unggul yang resisten, melakukan
desinfeksi atau mensterilkan tanah dengan uap panas atau dengan menggunakan zat
kimia khusus, dan juga dengan meniadakan kontaminan pada biji-biji dengan
perlakuan biji (seed treatment) dengan beberapa zat kimia. Pengendalian secara
biologi juga dapat diterapkan dalam mengendalikan Sclerotium rolfsii, yakni
menggunakan Trichoderma glaucum sebagai cendawan antagonis yang efektif untuk
mengendalikan Sclerotium rolfsii penyebab penyakit busuk batang pada kacang
hijau.
Penyakit kudis (scab) disebabkan oleh Elsinoe glycines.
Gejala penyakit ini tampak pada daun, tangkai daun, batang dan polong. Pada
daun mula-mula timbul bercak kecil, bulat dengan garis tengah 1-2 mm, coklat
atau coklat kemerahan. Seringkali jaringan daun di sekitar bercak menguning.
Bercak sedikit demi sedikit membesar sehingga garis tengahnya mencapai 3-5 mm,
kadang-kadang tampak agak bersudut. Bercak yang tua mempunyai pusat berwana
kelabu atau putih kelabu dan dapat berlubang. Bercak daun terjadi pada atau
sepanjang tulang daun atau tulang tengah. Pada tulang daun dan tulang tengah
daun, bercak tampak seperti kanker atau kudis berwarna suram dan tampak lebih
jelas pasa bagian bawah daun daripada sisi atas daun. Daun mengeriting jika
terinfeksi pada waktu masih muda. Pada batang bercak bulat atau lonjong dengan
garis tengah 3-5 mm, pusatnya berwana kelabu atau putih kelabu. Seringkali
bercak bersatu sehingga panjangnya bisa mencapai 1cm atau lebih, sejajar dengan
sumbu batang. Bercak sering agak terangkat, suram, berwana kelabu atau putih
kelabu, dan menunjukkan gejala kudis yang khas. Gejala pada polong merupakan
gejala yang paling jelas. Bercak-bercak pada polong hijau yang masih muda agak
melekuk, jorong, agak bulat, atau kadang-kadang tidak teratur, ukurannya bervariasi
dari satu titik sampai bergaris tengah 5-8 mm. bercak berwarna coklat tua atau
coklat kemerahan dan pusatnya sering berwana kelabu jika polong menjadi masak,
bercak-bercak sedikit demi sedikit terangkat dan warnanya menjadi lebih muda,
yaitu kelabu atau putih kelabu. Pengendalian penyakit ini terdapat beberapa
cara, diantaranya menggunakan varietas yang tahan bila memungkinkan,
merotasikan tanah bekas tanaman kacang hijau dengan tanaman yang berbeda
familinya, dan memperbaiki system drainase lahan. Selain secara teknis,
pengendalian secara kimia dilakukan dengan penyemprotan fungisida.
kepik Hijau dikenal dengan nama Nezara
viridula, Green Stink Bug, dan Lembing Hijau. Hama ini merupakan salah
satu hama utama pada tanaman kacang hijau dan bersifat polifag. Tanaman inang
hama ini antara lain padi, kacang hijau, tanaman kacang-kacangan, orok-orok dan
kentang.Nimfa dan imago merusak polong dan biji kedelai dengan cara mengisap
cairan biji. Serangan yang terjadi pada fase pertumbuhan polong dan
perkembangan biji menyebabkan polong dan biji kempis, kemudian mengering.
Serangan terhadap polong muda menyebabkan biji kempis dan seringkali polong
gugur. Serangan yang terjadi pada fase pengisian biji menyebabkan biji
menghitam dan busuk.
Pengendalian hama perusak polong dapat dilakukan
dengan beberapa cara antara lain pergiliran tanaman, penanaman serempak, dan
pengamatan secara intensif sebelum dilakukan pengendalian dengan menggunakan
insektisida. Penggunaan insektisida akan cukup efektif secara ekonomi jika intensitas
serangan penggerek polong lebih dari 2 % atau jika ditemukan sepasang populasi
penghisap polong dewasa atau kepik hijau dewasa pada umut 45 hari setelah
tanam.
Ulat Grayak ( Spodoptera
litura) kerusakan terjadi karena ulat menghabiskan seluruh daun sehingga
biasanya hanya tersisi tulang daunnya saja hal ini mengakibatkan penurunan
jumlahproduksi. Pengendalian dilakukan dengan cara pengolahan tanah atau
penggemburan tanah, pengendalian secara biologi dan penggunaan
insektisida.Kepik ( Nezara viridula )
; merusak polong dan cairan biji sehingga terlihat ada bintik coklat pada kulit
biji dan polong jika serangan terjadi ketikan membentuk biji maka akan
menghasilkan polong hampa. Gejala kerusakan tanaman
akibat serangan ulat ini adalah daun tanaman habis (hanya tersisa tulang daun),
polong muda rusak, atau seluruh tanaman rusak. Gejala yang nampak tergantung
pada jenis tanaman yang diserang dan intensitas serangan larva muda serta larva
dewasa.Pengendalian
dilakukan dengan mengatur pola tanam, sanitasi, secara kimiawi dengan
insektisaida pada saat tanaman berumur 45 HST.
Tanaman
yang mati karena penyakit layu R. Rosali
dan tanaman yang sakit karena virus mozaik kacang hijau (MMV) dan virus mozaik
buncis (BYMV) segera dicabut, dibenamkan atau dibakar ditempat lain di luar
lahan pertanian. Apabila daerah ini merupakan endemis penyakit layu, maka perlu
diantisipasi secara dini dengan pembalikan tanah yang dalam atau dibuat saluran
drainase atau penambahan agens antagonis atau kompos/pupuk kandang yang matang.
Apabila
serangan penyakit embun tepung, bercak daun dan kudis mencapai intensitas ≥ 20
% dilakukan pengendalian dengan fungsida efektif. Didaerah indemis virus MMV
dan BYMV apabila dijumpai vektor virus Aphis
sp dan gejala serangan virus dapat dilakukan pengendalian serangga vektor.
Untuk
menekan pertumbuhan populasi ulat grayak secara awal dapat dilakukan
pengumpulan kelompok telur. Apabila dijumpai populasi ulat berkelompok mencapai
≥ 2 kelompok instar 1/30 rumpun atau < 180 instar 2/30 dapat dilakukan
pengumpulan ulat yang berkelompok. Apabila populasi masih tinggi atau kerusakan
melampaui ambang pengendalian (180 instar 1/20 rumpun, 10 instar 3/10 rumpun
atau ≥ 25 % kerusakan daun), dapat dilakukan aplikasi dengan insektisida
efektif yang aman bagi manusia dan lingkungan. Apabila tersedia biakan agens
hayati SL-NPV diaplikasikan untuk
menekan perkembangan ulat grayak.
Apabila populasi ulat buah instar
awal tinggi melampaui ambang pengendalian (50 instar 1/10 rumpun), dapat
digunakan insektisida efektif yang aman bagi manusia dan lingkungan. Bila
sarana agens hayati memadai dapat dilakukan penyamprotan Ha-NPV untuk menekan populasi ulat buah.
Pengendaliannya, tanam serempak,
tanam gilir, benih masukan kedalam lubang dengan insektisida butiran seperti
furadan 3G, dan penyemprotan dengan insektisida seperti Thiodin 35 EC mulai
umur tiga hari. Ulat Jengkal : ciri-cirinya, tubuhnya berwarna hijau,
ukurannya 2-3 cm, dan jalannya menyungkal.
Dampak pada tanaman, menyerang tanaman yang sudah tua,
dan menyerang daun hingga tulang daun.
Pengendaliannya, musnahkan telur dan larvanya, tanam
gilir, tanam serempak, dan penyemprotan pestisida, seperti Dekametrin, azodrin
15 WSG, atau Dursbori 20 EC.
Serangan penyakit pada kacang hijau sering menimbulkan
kerugian bagi para petani, diantara penyakit – penyakit kacang hijau yang
sering menyerang adalah penyakit busuk batang Sclerotium, penyakit kudis,
penyakit embun tepung, dan penyakit mozaik kuning.
Pengelolaan hama terpadu (PHT) mempunyai definisi yang
jumlahnya sama banyak dengan jumlah praktisinya. Definisi maupun bagaimana
prakteknya keduanya mempunyai konsensus bahwa dalam PHT digunakan sedikit
mungkin pestisida dan dimanfaatkan sebanyak mungkin mekanisme pengendalian hama
untuk menjaga agar populasi hama berada di bawah aras yang menyebabkan kerugian
ekonomis. Pendekatannya berakar pada pemikiran ekologi, yaitu bahwa sistem
pengendalian hama yang merupakan subsistem dari suatu sistem produksi tanaman
dapat menjaga kelestarian produktivitas tanaman dan lahan, menjaga keseimbangan
alami dan daur ulang sumber daya lingkungan, dengan menggunakan sistem masukan
yang rendah dan integrasi strategi pengendalian. Perkembangan dari teori ke
penerapan dalam prakteknya dirasakan lamban. Hal ini menimbulkan
perhatian sejumlah masyarakat dunia yang menyebabkan timbulnya inisiatif untuk
menelaah kendala-kendala yang menghambat penerapan PHT baik di negara
berkembang maupun negara maju sesuai dengan literatur ( Lutfiahfifah, 2010).
Dalam konsep PHT, pemanfaatan musuh alami sebagai
agens hayati dalam mengendalikan hama dan penyakit perlu dikedepankan dalam
menekan penggunaan pestisida kimia yang berlebihan .Agens hayati merupakan
bagian dari suatu ekosistem yang sangat penting peranannya dalam mengatur
keseimbangan ekosistem tersebut. Secara alamiah, agens hayati merupakan
komponen utama dalam pengendalian alami yang dapat mempertahankan semua
organisme pada ekosistem tersebut berada dalam keadaan seimbang. Terdapat
beberapa kelebihan pemakaian agens hayati antara lain: (1) menurunkan resiko
resistensi hama dan penyakit tanaman dan ketahanannya terhadap perlakuan, (2)
tidak mematikan musuh-musuh alami lainnya, (3) menurunkan resiko ledakan hama
sekunder, (4) tidak berdampak negatif terhadap kesehatan manusia dan ternak,
(5) tidak merusak lingkungan dan sumber air, (6) menurunkan biaya produksi.
Beberapa jenis agens hayati yang sudah dapat dikembangkan antara lain
parasitoid, predor, dan patogen serangga terdiri dari virus, bakteri, dan
cendawan.
Sebagai perwujudan pedoman penerapan
PHT pada tanaman kacang hijau, dilakukan pendekatan atas dasar fase tumbuh
tanaman. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa setiap fase tumbuh tanaman
mempunyai karesteristik masing-masing, baik dalam hal kondisi lingkunagan
optimal yang diperlukan maupun hubungannya dengan jenis OPT. dalam pedoman ini
fase tumbuh tanaman kacang hijau disederhanakan agar mudah dalam pengelolaan
dan juga atas dasar keterkaitan dengan OPT yang ada.
Hama yang sering menyerang tanaman kacang hijau dalah agromyza phaseolli (lalat kacang) meruca
testualitis, spidoptera sp, Plusia chalsites (ulat) dan kutu trips. Lalat
Kacang atau lalat Bibit ( Ophiomyaphaseoli
) ; kerusakan terjadi karena lalat menggerek keping biji yang baru muncul
diatas tanah dan daun pertama. Biasanya tanaman yang diserang pada umur 4- 10
hari akan mati.
Pengendalian dengan menggunakan Insektisida seperti Marshal 25 ST dan Furadan 3 G.
Pengendalian dengan menggunakan Insektisida seperti Marshal 25 ST dan Furadan 3 G.
Gejala serangan pada tanaman kacang hijau yaitu gejala awal
berupa bercak-bercak pada keping biji atau daun pertama. Bercak ini merupakan
tempat peletaka telur. Selanjutnya terlihat liang gerek pada keping biji atau
daun pertama. Ketika polong yang diserang gugur, larva sudah berada di dalam
batang. Pada saat larva telah berada di pangkal akar daun mulai layu dan
kekuning-kuningan. Tanaman akan mati berumur 3-4 minggu
Hal yang tidak kalah penting yaitu mengenai ambang
ekonomi dimana merupakan ambang kendali yang merupakan dasar tindakan
pengendalian kimiawi. Teknologi pengendalian hama kacang hijau yang efektif
adalah insektisida sidametrin untuk lalat kacang, matador untuk hama daun, dan
deltametrin untuk hama penghisap polong. Alternatif pengendalian yang sudah
tersedia adalah insektisida nabati ekstrak serbuk biji mimba untuk pengendalian
lalat kacang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar