Pengaruh Kompos Kulit Buah Kakao dan Kascing terhadap Perbaikan Beberapa Sifat Kimia Fluventic Eutrudepts
Kulit buah kakao merupakan salah satu limbah dari perkebunan kakao. Apabila tidak dimanfaatkan dapat merupakan masalah lingkungan di sekitarperkebunan.Salah satu cara untuk memanfaatkan kulit buah kakao adalah dijadikan kompos yang dapat digunakan sebagai pupuk organik. Pertumbuhan bibit kakao di lapangan sangat ditentukan oleh pertumbuhantanaman selama di pembibitan.Media tanam merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman kakao di pembibitan. Penggunaan mediatanam yang banyak mengandung bahan organik sangat menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman kakao.
Soeratno (1980) menganjurkan tanah isian
kantung plastik sebaiknya terdiri atas campuran tanah lapisan atas dengan pupuk
kandang dengan perbandingan 1 : 1. Zulfan(1988)
dan Erwiyono (1990) menganjurkan apabila digunakan tanah lapisan atas jenis
podsolik merah kuning untuk medium tumbuh bibit kakao, sebaiknya dicampur
dengan pasir dan pupuk kandang dengan perbandingan 2 : 1 : 1, sedangkan Wahyudi
(1986) dan Soetanto (1991) menganjurkan perbandingan tanah dan pupuk kandang 2
: 1 untuk tanah lapisan atas.Rekomendasi dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao
(1997), yaitu dengan perbandingan komposisi 1 : 1 : 1. (tanah : pasir :
bokashi).
Pupuk kandang saat ini adalah salah satu
sumber bahan organik untuk pertumbuhan bibit kakao. Penggunaan kompos kulit
buah kakao diharapkan sebagai alternatif
pengganti pupuk kandang. Bahan organik lain
yang dapat berperan sebagai alternatif pupuk kandang kascing,penelitian-penelitian
menunjukkan kascing berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman.
Hasil penelitian Amien (1984) dalam
Mohamad Fadli (2001) menunjukkanbahwa pemberian kascing 7,5 t ha
-1 meningkatkan hasil padi gogo sebesar 34,76 %.
Berdasarkan hasil penelitian Farida Aryani (1996), pemberian kascing berbeda
dosis pada tanaman tomat menyebabkan perbedaan yang nyata dalam luas daun, bobot kering tanaman, serta nisbah pupus akar tanaman
tomat. Peningkatan dosis kascing dapat
meningkatkan hasil sampai dosis kascing optimum 19,1992 g 10 kg-1 tanah (3,84 t
ha-1). Hasil penelitian Raden (1999) bahwa pemberian kascing dengan dosis 7,5 t ha-1 ; 15 t ha-1; 22,5 t ha-1 dapat
meningkatkan LAB dan LTR serta dapat
meningkatkan kandungan P daun tanaman bawang merah.
Kultivar tanaman yang unggul dibutuhkan
untuk memproduksi bibit kakao yang baik.
Kultivar Upper Amazone Hybrid (UAH) memiliki sifat-sifat yang unggul,
diantaranya yaitu: produksi tinggi, lebih tahan terhadap hama dan penyakit,aspek
agronomis mudah, pertumbuhan vegetatif yang baik dan periode tanaman untuk
menghasilkan cepat (Spillane, 1995).
Kultivar UAH banyak digunakan diperkebunan-perkebunan di Indonesia. Bibit yang baik untuk dipindahkan ke lapangan
setelah berumur 3-5 bulan, tinggi 40-60 cm, jumlah daun minimum 12 lembar dan
diameter batang 0,7-1,0 cm. (Pusat
Penelitian Kopi dan Kakao, 1997) .Kombinasi dosis kompos kulit buah kakao dan
kascing diharapkan dapatmemberi pengaruh yang lebih baik terhadap beberapa
sifaat kimia tanah (pH, KTK,dan Nisbah C/N).
Media Tumbuh
Media tumbuh merupakan salah satu faktor
yang mempengaruhi pertumbuhan bibit
kakao.Media tumbuh mempunyai peranan yang sangatbesar dalam memberikan
lingkungan tumbuh yang sesuai uuntuk perkecambahan biji, pembentukan akar dan pertumbuhan awal
bibit tanaman(Aris Wibawa, 1993). Menurut Pusat Penelitian Kopi dan Kakao
(1997) media tumbuh untuk pembibitan kakao digunakan campuran tanah lapisan
olah, pasir danpupuk kandang. Balai
Penelitian Perkebunan Jember (1988) mengemukakan bahwa media pembibitan harus
berupa tanah yang sifat fisik maupun kimiawinya baik, yaitu subur dan
gembur. Untuk tanah yang memiliki sifat
7.
Kompos Kulit Buah Kakao
Pupuk organik adalah pupuk yang berasal
dari sisa-sisa organisme hidup. Pupuk organik yang sering digunakan adalah
pupuk kandang dankompos. Rachman Sutanto
(2002) mengemukakan bahwa secara garis besar keuntungan yang diperoleh dengan
memanfaatkan pupuk organik adalah
mempengaruhi sifat fisik, kimia dan biologis tanah. Kompos adalah bahan
organik mentah yang telah mengalami proses dekomposisi secara alami. Proses
pengomposan memerlukan waktu yang panjang tergantung pada jenis
biomassanya. Percepatan waktu
pengomposan dapat ditempuh melalui
kombinasi pencacahan bahan baku dan pemberian aktivator dekomposisi (Goenadi,
1997).Salah satu limbah pertanian yang baru sedikit dimanfaatkan adalah limbah
dari perkebunan kakao yaitu kulit buah kakao.Opeke (1984) mengemukakan bahwa
kulit buah kakao mengandung protein 9,69%, glukosa 1,16%, sukrosa 0,18%, pektin
5,30%, dan Theobromin 0,20%
Kascing
Kascing adalah bahan organik yang berasal dari cacing.Radian (1994)mengemukakan
bahwa kascing adalah kotoran cacing tanah yang bercampur dengan tanah atau
bahan lainnya yang merupakan pupuk organik yang kaya akan unsur hara dan
kualitasnya lebih baik dibandingkan dengan pupuk organik jenis lain. Kascing dari Eiesnia foetida
mengandung nitrogen 0,63%, fosfor 0,35%, kalium 0,20%, kalsium 0,23%, magnesium
0,26%, natrium 0,07%, tembaga 17,58%, seng 0,007%, mangan 0,003%, besi 0,790%,
boron 0,2221%, molibdenum 14,48%, KTK 35,80 meg/100g, kapasitas menyimpan air
41,23% dan asam humus 13,88% (Trimulat, 2003). Selain kandungan unsur haranya
tinggi, kascing sangat baik untuk pertumbuhan tanaman, karena mengandung auksin
(Catalan, 1981 dalam Radian
1994). Unsur hara dalam cacing tergolong lengkap baik hara makro maupun hara mikro,
tersedia dalam bentuk yang mudah diserap
oleh tanaman (Atiyeh, dkk., 2000).
Tujuan dan Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat
memberikan informasi yang berguna dalam usaha pengembangan pemanfaatan limbah
buah kakao sebagai pupuk organik. Selain itu, hasil penelitian ini akan melihat
kemampuan dua jenis bahan amelioran dalam memperbaiki sifat kimia Inceptisols (Fluventic
Eutrudepts) yang tergolong buruk. Penelitian
ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada dunia ilmu pengetahuan, khususnya pada informasi kemajuan penelitian
bidang kesuburan (sifatkimia) tanah.
Secara tidak langsung penelitian ini juga mengupayakan kepada
peningkatan nilai ekonomis dari suatu limbah yang memiliki dampak negatif
menjadi dampak positif dalam hal-hal sebagai berikut:
Kulit buah kakao dapat dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik
Penggunaan pupuk anorganik dapat dikurangi dengan menambah
suplai unsur hara dari dua jenis amelioran, yaitu kompos dan kascing yang
saling berinteraksi mempengaruhi perubahan sifat
kimia tanah ke arah yang lebih baik
Petani dan pihak perkebunan (perusahaan) setempat dapat
mengurangi jumlah limbah kulit buah kakao yang potensial mencemari lingkungan
Meningkatkan nilai tambah kulit buah kakao.
Metode Penelitian
Rancangan percobaan yang digunakan
adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial, 2 faktor dengan 2 kali
ulangan.
Faktor pertama Kompos Kulit Buah Kakao (C) dengan 4 taraf :
C = tanpa kompos
Co = kompos 1,25 kg per
polibeg (3 bagian tanah : 1 bagian
kompos)
C1 = kompos 1,67 kg per
polibeg (2 bagian tanah : 1 bagian kompos)
C23 = kompos 2,51 kg per
polibeg (1 bagian tanah : 1 bagian kompos)
Faktor kedua Kascing (K) dengan 4 taraf :
K = tanpa kascing
Ko = kascing 10 g per
polibeg
K1 = kascing 20 g per
polibeg
K23 = kascing 30 g per
polibeg
Terdapat 4 x 4 = 16 kombinasi perlakuan,
seluruh satuan percobaan yang diulang 2 kali menghasilkan 16 x 2 = 32 satuan
percobaan.
Rancangan Respons
Untuk mengetahui respon perlakuan antara
kompos kulit buah kakao dengan dosis kascing dilakukan pengamatan utama dan
pengamatan penunjang. Pengamatan utama terdiri dari pH, C-organik, KTK tanah,
sedangkan pengamatan penunjang meliputi parameter pertumbuhan bibit kakao
(tinggi tanaman, jumlah daun, dan bobot kering total) dengan waktu pengamatan
pada umur 4, 7, 10, 13, dan 16 minggu setelah tanam (MST) pada setiap
polibeg.
Persiapan
Media Tanam
Tanah yang digunakan untuk media tanam
adalah Inceptisols yang diambil secara komposit dari lapisan atas dengan kedalaman
0-20 cm, lalu dikering udarakan selama
2-4 hari. Kemudian tanah ditumbuk dan disaring dengan saringan berukuran 2 mm
lalu tanah ditimbang sebanyak 5 kg dan dimasukan ke dalam polibeg. Kemudian
dicampurkan perlakuan kompos kakao, dan
kotoran cacing sesuai dosis pada setiap perlakuan dan dicampur secara merata. Penyiraman dilakukan dengan memberikan
sejumlah air yang sesuai dengan kebutuhan air
sampai kapasitas lapang.
Persiapan
Benih dan Perkecambahan
Benih kakao jenis Upper Amazone Hybrid
(UAH) diambil dari buah yang masak, yang diambil dari batang utama tanaman
kakao. Biji dari buah
kakao untuk benih diambil bagian tengahnya saja
(berukuran 18-19 cm),sedangkan bagian kedua sampingnya dibuang dan diambil
hanya biji-biji yang besarnya seragam.Bahan
tanaman biji kakao dibersihkan dahulu dari lendir yang menempel dengan sekam padi tujuannya supaya biji cepat
berkecambah dan supaya terhindar dari serangan
penyakit, biji direndam dahulu dengan fungisida Dhitane
M-45 dengan konsentrasi 2 g L-1air selama 5 menit. Benih kakaojenis
UAH yang sudah siap, dikecambahkan pada
medium karung goni. Karung goni dicelupkan ke dalam larutan fungisida Dithane
M-45 0,2%. Benih dihamparkan di atas karung
(beralas batu bata agar tidak kontak langsung dengan
tanah), jarak antar benih 2 x 3 cm sehingga untuk satu karung goni ukuran 100 x 72 cm dapat digunakan untuk 300 benih. Benih ditutup karung goni tipis yang telah dicelupkan dalam fungisida kemudian
disiram air setiap hari. Untuk melindungi benih dari tetesan air hujan, bedengan diberi
naungan.
Persemaian
Benih yang telah berkecambah (berumur 5
hari) diletakkan pada media tanam (pasir) dengan ketebalan 10 cm. Cara penanaman kecambah adalah bagian ujung
benih yang membesar (mata benih) di sebelah bawah dan
kemudian membenamkannya sampai kira-kira 0,5 cm saja
yang muncul di atas permukaan pasir. Jarak tanam yang digunakan adalah 5 x 3
cm. Persemaian diberi naungan untuk menghindari dari hujan dan angin.
Penanaman
Bibit dari persemaian dipindahkan ke dalam polibeg pada umur 10 hari. Bibit dipilih yang
seragam, bervigor, sehat, akarnya lurus dan tidak mengalami
kerusakan. Setiap polibeg yang sudah berisi medium
tumbuh ditanami satu kecambah kakao.
Polibeg-polibeg disusun di bawah naungan berupa paranet dengan intensitas cahaya yang masuk 65 %. Lahan pembibitan dilindungi dengan plastik
tranparan untuk menghindari serangan hama belalang.
Kantung-kantung ditempatkan dengan jarak antar polibeg 15 x 30 cm.
Pemeliharaan
meliputi kegiatan penyiraman, penyiangan gulma, serta pengendalian hama dan penyakit. Penyiraman dilakukan dengan
melakukan penimbangan terlebih dahulu untuk
menentukan jumlah air yang harus ditambahkan.
Hal tersebut dimaksud untuk mempertahankan kondisi kapasitas lapang.Kegiatan penyiraman dilakukan setiap pagi hari
dengan cara menyiramkan air ke dalam polibeg yang sebelumnya telah diberi
lubang secara merata pada setiap kedalaman
media. Pemupukan dilakukan setiap dua minggu menggunakan urea 2 g, pada satu
bibit. Penyiangan gulma dilakukan secara manual yaitu mencabut setiap gulma dari polibeg
kemudian dibenamkan kembali kedalam tanah pada polibeg tersebut. Pemberian pestisida dilakukan bila
terjadi serangan hama dan penyakit. Pestisida yang dianjurkan adalah dengan bahan
aktif Deltrametrin(Decis 2,5 EC), Sihalotrin (Matador 25 EC), dan Dithane M-45.
Hasil Pembahasan
Hasil analisis terhadap sifat fisik dan
kimia Fulventic Eutrudeps Jatinangor. Cara
Pembuatan Kompos Limbah Kakao
Alat dan bahan :
Sekop
Kain terpal
Orgadek dengan bahan aktif Trichoderma sp. dan Cytophaga
sp.
Papan
Limbah Kakao 603 kg
Proses Pembuatan :
1. Limbah kakao dipotong-potong hingga homogen berukuran lebih
kurang 2 cm
2.Campurkan potongan limbah kakao dengan Trichodherma sp.
dan Cytophaga sp.sebanyak1,25 % (v/v)., kemudian diaduk dengan limbah
kulit buah kakao sebanyak 100 kg sampai merata.
3. Inkubasikan selama satu bulan atau sampai kandungan C/N antara
10 – 20, atau kompos sudah terlihat berjamur dan kering dan tidak berbau.Inkubasi
terjadi pada cetakan papan yang dilapisi kain terpal.
4. Selama masa inkubasi, suhu harus di atas 700c.
Metode tersebut sesuai dengan anjuran dari Balai
Bioteknologi Perkebunan Bogor Tanah ini
memiliki tekstur liat berdebu dan agak masam
(pH 5,6), C-organik sebesar 1,55 termasuk kategori rendah, sedangkan kandungan haranya termasuk dalam penilaian
kesuburan kimia yang rendah.
Kascing juga memiliki kandungan hara yang lebih tinggi bila
dibandingkan dengan KBKBK. Kandungan hara (P15 2O5, KO) yang tinggi dan
didukung KTK yang tinggi menyebabkan kascing dapat mensuplai unsur hara
tambahan yang lebih tinggi. Suhu
rata-rata, Kelembaban Nisbi rata-rata dan Curah Hujan Januari Februari Maret April:
Suhu rata rata (0C) 23,9 23,8 24,2 24,1
Suhu Maksimum rata rata (0C) 28,9 29,4 29,3 29,1
Suhu Minimum rata rata (0C) 18,9 19,1 19,7 19,1
Kelembaban Nisbi rata-rata (%) 81 81 80 80
Curah Hujan rata-rata (mm) 16,4 20 13,8 6,8
Kemasaman Tanah (pH tanah)
Hasil analisis statistik menunjukkan
bahwa
terjadi interaksi yang nyata antara KKBKK dengan
kascing.Secara mandiri perlakuan dosis kompos berpengaruh nyata terhadap pHtanah
. Setiap kenaikan dosis kompos, berpengaruh nyata terhadap peningkatan pH tanah mendekati pH 7 (netral), sehingga
kisaran pH tersebut dianggap baik dan optimal
untuk pertumbuhan bibit kakao. Namun demikian,
baik KBKBK dan kascing merupakan muatan tidak tetap (variabel), artinya setiap
kenaikan atau penurunan pH tanah tidak selalu memiliki korelasi terhadap
perbaikan kesuburan tanah.
C-organik
Hasil analisis statistik pengaruh KBKBK
dengan kasing terhadap C-organik menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi yang
nyata. Hal ini diduga Faktor perlakuan dosis KBKBK memberikan pengaruh nyata
terhadap
C-organik. Efek mandiri (Tabel 2) pada dosis KBKBK
memperlihatkan bahwa setiap peningkatan dosis
KBKBK berpengaruh nyata terhadap peningkatan Corganik. Dosis 2,51 kgper polibeg
memiliki persen
C-organik tertinggi
dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya, kecuali dosis 1,67 kg per polibeg.
Produk dekomposisi bahan organik
merupakan sumber energi bagi mikroorganisme tanah untuk pembentukan sel
tubuhnya. Hal ini mengandung arti bahwa
bahanorganik tanah meningkatkan populasi mikroorganisme tanah. Menurut Buckman
and Brady (1982) populasi mikroorganisme tanah meningkat dengan adanya
penambahan bahan organik ke dalam tanah ditinjau dari peredaran CO2. Kadar
bahan organik ini sidah akan memperbaiki struktur tanah, biologi tanah,
absorpsi hara, dan daya simpan lengas tanah. Tingginya kemampuan absorpsi
menandakan bahwa daya pegang tanah terhadap unsur-unsur hara cukup tinggi dan
selanjutnya melepaskannya untuk diserap akar tanaman.
Kapasitas Tukar Kation (KTK)
Tidak terjadi interaksi yang nyata
antara KBKBK dan kascing terhadap KTK tanah.Hal ini dikarenakan proses
dekomposisi KBKBK dan kascing belum banyak menghasilkan humus yang mempunyai
gugus karboksil (-COOH ↔ COO-
+ H+) dan phenol (-C6H4O- ↔ -C). Berdasarkan efek mandiri kedua faktor
perlakuan tersebut, baik KBKBK
maupun kascing tidak menunjukkan angka beda nyata pada seluruh level dosis. KTK tanah awal yang cukup tinggi diduga telah mempengaruhi pada kesimbangan hara di
dalam tanah oleh tanaman bibit kakao
untuk tumbuh dengan optimal, sehingga berapapun peningkatan dosis kedua bahan organik tersebut, tidak
akan mempengaruhi KTK tanah, artinya secara
teoritikal tetap tinggi.
Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
Berdasarkan telaah hasil penelitian
mengenai pengaruh kompos bioaktif kulit buah kakao dan kascing terhadap
pertumbuhan bibit kakao, dapat disimpulkan sebagai berikut :
(1) Pemberian kompos bioaktif kulit buah kakao dengan kascing tidak
memberikan pengaruh interaksi nyata
terhadap pH tanah, C-organik, dan KTK tanah. Secara mandiri, kompos bioaktif
kulit buah kakao memberikan pengaruh nyataterhadap perbaikan pH tanah dan
C-organik, sedangkan pemberian kascing tidak memberikan pengaruh nyata terhadap
ketiga variabel sifat kimia Fluventic Eutrudepts.
(2) Pemberian kompos bioaktif kulit buah kakao 2,51 kg per polibeg
memberikan pH tanah dan C-organik tertinggi masing-masing sebesar 6,9613 dan
4,844%,atau meningkat 50,80% dan 159% jika dibandingkan dengan kontrol.
Saran
Hasil penelitian menunjukkan pengaruh
KBKBK terhadap pH dan C-organik meningkat kearah yang lebih baik, sedangkan
kascing pengaruhnya belum cukup nyata terhadap perbaikan sifat kimia Fluventic
Eutrudepts, hal ini diakibatkan rendahnya dosis yang diberikan dan tingginya
curah hujan. Oleh karena itu perlu dilakukan
penelitian lanjutan dengan dosis kascing yang ditingkatkan, yaitu diatas 30 g
per polibeg.
DAFTAR PUSTAKA
Aris wibawa. 1993. Pengaruh Pengapuran dan Pemupukan NPK terhadap Pertumbuhan
Bibit Kakao pada Medium Tanah Gambut. Pelita Perkebunan 8 (4), 85-90.
Farida Ariyani. 1996. Pertumbuhan dan Hasil Tomat (Lycopersicon
esculentum Mill.) dengan Perlakuan MVA dan Pupuk Organik Kascing pada
Ultisol.Tesis Pasca Sarjana Universitas Padjadjaran.
Hermawan, D. Cikman. L. Rochmalia, D.H. Goenadi. 1999. Produksi
Kompos
Bioteknologi Perkebunan Untuk Praktek. Asosiasi Penelitian
Perkebunan Indonesia Unit Penelitian Bioteknologi Perkebunan.
Hutcheon, W.V. 1975. The Water Relation of Cocoa. Rep. Cocoa Res.
Inst. Ghana 149-165.
Iswandi Anas. 1990. Metode
Penelitian Cacing Tanah dan Nematoda. PAU-IPB. Bogor.
Mul Mulyani. 1995. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta.
Jakarta.
Pusat Penelitian Kopi dan Kakao. 1997. Pedoman Teknis Budidaya
Tanaman Kakao.Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember.
Raden I. 1999. Pertumbuhan dan Hasil Bawang merah (Allium
ascalonicum L.) pada
Pertumbuhan Semaian yang Dihasilkan di Kaliwining. Pelita
Perkebunan 5(4): 106-112. Soedarsono, Soetanto Abdoellah, Endang Aulistyowati.
1997. Penebaran Kulit Buah Kakao Sebagai
Sumber Bahan Organik Tanah dan Pengaruhnya terhadap Produksi Kakao.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar