Budidaya Tanaman demi kemajuan pertanian PERTANIAN: PENGARUH KOMPOS KULIT BUAH KAKAO

Senin, 23 Desember 2013

PENGARUH KOMPOS KULIT BUAH KAKAO



Pengaruh Kompos Kulit Buah Kakao dan Kascing terhadap Perbaikan Beberapa Sifat Kimia Fluventic Eutrudepts

Kulit buah kakao merupakan salah satu limbah dari perkebunan kakao. Apabila tidak dimanfaatkan dapat merupakan masalah lingkungan di sekitarperkebunan.Salah satu cara untuk memanfaatkan kulit buah kakao adalah dijadikan kompos yang dapat digunakan sebagai pupuk organik. Pertumbuhan bibit kakao di lapangan sangat ditentukan oleh pertumbuhantanaman selama di pembibitan.Media tanam merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman kakao di pembibitan.  Penggunaan mediatanam yang banyak mengandung bahan organik sangat menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman kakao.
Soeratno (1980) menganjurkan tanah isian kantung plastik sebaiknya terdiri atas campuran tanah lapisan atas dengan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1.  Zulfan(1988) dan Erwiyono (1990) menganjurkan apabila digunakan tanah lapisan atas jenis podsolik merah kuning untuk medium tumbuh bibit kakao, sebaiknya dicampur dengan pasir dan pupuk kandang dengan perbandingan 2 : 1 : 1, sedangkan Wahyudi (1986) dan Soetanto (1991) menganjurkan perbandingan tanah dan pupuk kandang 2 : 1 untuk tanah lapisan atas.Rekomendasi dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (1997), yaitu dengan perbandingan komposisi 1 : 1 : 1. (tanah : pasir : bokashi).
Pupuk kandang saat ini adalah salah satu sumber bahan organik untuk pertumbuhan bibit kakao. Penggunaan kompos kulit buah kakao diharapkan sebagai  alternatif pengganti pupuk kandang.  Bahan organik lain yang dapat berperan sebagai alternatif pupuk kandang kascing,penelitian-penelitian menunjukkan kascing berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman.  
Hasil penelitian Amien (1984) dalam Mohamad Fadli (2001) menunjukkanbahwa pemberian kascing 7,5 t ha -1 meningkatkan hasil padi gogo sebesar 34,76 %. Berdasarkan hasil penelitian Farida Aryani (1996), pemberian kascing berbeda dosis pada tanaman tomat menyebabkan perbedaan yang nyata dalam luas daun, bobot kering tanaman, serta nisbah pupus akar tanaman tomat.  Peningkatan dosis kascing dapat meningkatkan hasil sampai dosis kascing optimum 19,1992 g 10 kg-1 tanah (3,84 t ha-1).  Hasil penelitian Raden  (1999) bahwa pemberian kascing dengan dosis 7,5 t ha-1 ; 15 t ha-1; 22,5 t ha-1 dapat meningkatkan LAB dan LTR serta dapat meningkatkan kandungan P daun tanaman bawang merah. 
Kultivar tanaman yang unggul dibutuhkan untuk memproduksi bibit kakao yang baik.  Kultivar Upper Amazone Hybrid (UAH) memiliki sifat-sifat yang unggul, diantaranya yaitu: produksi tinggi, lebih tahan terhadap hama dan penyakit,aspek agronomis mudah, pertumbuhan vegetatif yang baik dan periode tanaman untuk menghasilkan cepat (Spillane, 1995).  Kultivar UAH banyak digunakan diperkebunan-perkebunan di Indonesia.  Bibit yang baik untuk dipindahkan ke lapangan setelah berumur 3-5 bulan, tinggi 40-60 cm, jumlah daun minimum 12 lembar dan diameter batang 0,7-1,0 cm.  (Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, 1997) .Kombinasi dosis kompos kulit buah kakao dan kascing diharapkan dapatmemberi pengaruh yang lebih baik terhadap beberapa sifaat kimia tanah (pH, KTK,dan Nisbah C/N).

Media Tumbuh
Media tumbuh merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi  pertumbuhan bibit kakao.Media tumbuh mempunyai peranan yang sangatbesar dalam memberikan lingkungan tumbuh yang sesuai uuntuk perkecambahan biji, pembentukan akar dan pertumbuhan awal bibit tanaman(Aris Wibawa, 1993). Menurut Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (1997) media tumbuh untuk pembibitan kakao digunakan campuran tanah lapisan olah, pasir danpupuk kandang.  Balai Penelitian Perkebunan Jember (1988) mengemukakan bahwa media pembibitan harus berupa tanah yang sifat fisik maupun kimiawinya baik, yaitu subur dan gembur.  Untuk tanah yang memiliki sifat 7.

Kompos Kulit Buah Kakao
Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari sisa-sisa organisme hidup. Pupuk organik yang sering digunakan adalah pupuk kandang dankompos.  Rachman Sutanto (2002) mengemukakan bahwa secara garis besar keuntungan yang diperoleh dengan memanfaatkan pupuk organik adalah  mempengaruhi sifat fisik, kimia dan biologis tanah. Kompos adalah bahan organik mentah yang telah mengalami proses dekomposisi secara alami. Proses pengomposan memerlukan waktu yang panjang tergantung pada jenis biomassanya.  Percepatan waktu pengomposan  dapat ditempuh melalui kombinasi pencacahan bahan baku dan pemberian aktivator dekomposisi (Goenadi, 1997).Salah satu limbah pertanian yang baru sedikit dimanfaatkan adalah limbah dari perkebunan kakao yaitu kulit buah kakao.Opeke (1984) mengemukakan bahwa kulit buah kakao mengandung protein 9,69%, glukosa 1,16%, sukrosa 0,18%, pektin 5,30%, dan Theobromin 0,20%

Kascing
Kascing adalah bahan organik  yang berasal dari cacing.Radian (1994)mengemukakan bahwa kascing adalah kotoran cacing tanah yang bercampur dengan tanah atau bahan lainnya yang merupakan pupuk organik yang kaya akan unsur hara dan kualitasnya lebih baik dibandingkan dengan pupuk organik jenis lain.  Kascing dari Eiesnia foetida mengandung nitrogen 0,63%, fosfor 0,35%, kalium 0,20%, kalsium 0,23%, magnesium 0,26%, natrium 0,07%, tembaga 17,58%, seng 0,007%, mangan 0,003%, besi 0,790%, boron 0,2221%, molibdenum 14,48%, KTK 35,80 meg/100g, kapasitas menyimpan air 41,23% dan asam humus 13,88% (Trimulat, 2003). Selain kandungan unsur haranya tinggi, kascing sangat baik untuk pertumbuhan tanaman, karena mengandung auksin (Catalan, 1981 dalam Radian 1994). Unsur hara dalam cacing tergolong lengkap baik hara makro maupun hara mikro,  tersedia dalam bentuk yang mudah diserap oleh tanaman (Atiyeh, dkk., 2000). 

Tujuan dan Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang berguna dalam usaha pengembangan pemanfaatan limbah buah kakao sebagai pupuk organik. Selain itu, hasil penelitian ini akan melihat kemampuan dua jenis bahan amelioran dalam memperbaiki sifat kimia Inceptisols (Fluventic Eutrudepts) yang tergolong buruk. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada dunia ilmu pengetahuan, khususnya pada informasi kemajuan penelitian bidang kesuburan (sifatkimia) tanah.  Secara tidak langsung penelitian ini juga mengupayakan kepada peningkatan nilai ekonomis dari suatu limbah yang memiliki dampak negatif menjadi dampak positif dalam hal-hal sebagai berikut:
 Kulit buah kakao dapat dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik
 Penggunaan pupuk anorganik dapat dikurangi dengan menambah suplai unsur hara dari dua jenis amelioran, yaitu kompos dan kascing yang saling berinteraksi mempengaruhi perubahan sifat kimia tanah ke arah yang lebih baik
 Petani dan pihak perkebunan (perusahaan) setempat dapat mengurangi jumlah limbah kulit buah kakao yang potensial mencemari lingkungan
 Meningkatkan nilai tambah kulit buah kakao.

Metode Penelitian
Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial, 2 faktor dengan 2 kali ulangan.
Faktor pertama Kompos Kulit Buah Kakao (C) dengan 4 taraf :
C         = tanpa kompos
Co       = kompos 1,25 kg per polibeg  (3 bagian tanah : 1 bagian kompos)
C1       = kompos 1,67 kg per polibeg (2 bagian tanah : 1 bagian kompos)
C23     = kompos 2,51 kg per polibeg (1 bagian tanah : 1 bagian kompos)
Faktor kedua Kascing (K) dengan 4 taraf : 
K         = tanpa kascing
Ko       = kascing 10 g per polibeg
K1       = kascing 20 g per polibeg
K23     = kascing 30 g per polibeg
Terdapat 4 x 4 = 16 kombinasi perlakuan, seluruh satuan percobaan yang diulang 2 kali menghasilkan 16 x 2 = 32 satuan percobaan.

Rancangan Respons
Untuk mengetahui respon perlakuan antara kompos kulit buah kakao dengan dosis kascing dilakukan pengamatan utama dan pengamatan penunjang. Pengamatan utama terdiri dari pH, C-organik, KTK tanah, sedangkan pengamatan penunjang meliputi parameter pertumbuhan bibit kakao (tinggi tanaman, jumlah daun, dan bobot kering total) dengan waktu pengamatan pada umur 4, 7, 10, 13, dan 16 minggu setelah tanam (MST) pada setiap polibeg.  

Persiapan Media Tanam
Tanah yang digunakan untuk media tanam adalah Inceptisols yang diambil secara komposit dari lapisan atas dengan kedalaman 0-20 cm, lalu dikering udarakan selama 2-4 hari. Kemudian tanah ditumbuk dan disaring dengan saringan berukuran 2 mm lalu tanah ditimbang sebanyak 5 kg dan dimasukan ke dalam polibeg. Kemudian dicampurkan perlakuan kompos kakao, dan kotoran cacing sesuai dosis pada setiap perlakuan dan dicampur secara merata. Penyiraman dilakukan dengan memberikan sejumlah air yang sesuai dengan kebutuhan air sampai kapasitas lapang.


Persiapan Benih dan Perkecambahan
Benih kakao jenis Upper Amazone Hybrid (UAH) diambil dari buah yang masak, yang diambil dari batang utama tanaman kakao.  Biji dari buah kakao untuk benih diambil bagian tengahnya saja (berukuran 18-19 cm),sedangkan bagian kedua sampingnya dibuang dan diambil hanya biji-biji yang besarnya seragam.Bahan tanaman biji kakao dibersihkan dahulu dari lendir yang menempel dengan sekam padi tujuannya supaya biji cepat berkecambah dan supaya terhindar dari serangan penyakit, biji direndam dahulu dengan fungisida Dhitane M-45 dengan konsentrasi 2 g L-1air selama 5 menit. Benih kakaojenis UAH yang sudah siap,  dikecambahkan pada medium karung goni. Karung goni dicelupkan ke dalam larutan fungisida Dithane M-45 0,2%. Benih dihamparkan di atas karung (beralas batu bata agar tidak kontak langsung dengan tanah), jarak antar benih 2 x 3 cm sehingga untuk satu karung goni ukuran 100 x 72 cm dapat digunakan untuk 300 benih.  Benih ditutup karung goni tipis yang telah dicelupkan dalam fungisida kemudian disiram air setiap hari.  Untuk melindungi benih  dari tetesan air hujan, bedengan diberi naungan.

Persemaian
Benih yang telah berkecambah (berumur 5 hari) diletakkan pada media tanam (pasir) dengan ketebalan 10 cm.  Cara penanaman kecambah adalah bagian ujung benih yang membesar (mata benih) di sebelah bawah dan kemudian membenamkannya sampai kira-kira 0,5 cm saja yang muncul di atas permukaan pasir.  Jarak tanam yang digunakan adalah 5 x 3 cm.  Persemaian diberi naungan untuk menghindari dari hujan dan angin.

Penanaman
Bibit dari persemaian dipindahkan ke dalam polibeg  pada umur 10 hari. Bibit dipilih yang seragam, bervigor, sehat, akarnya lurus dan tidak mengalami kerusakan. Setiap polibeg yang sudah berisi medium tumbuh ditanami satu kecambah kakao. Polibeg-polibeg disusun di bawah naungan berupa paranet dengan intensitas cahaya yang masuk 65 %.  Lahan pembibitan dilindungi  dengan plastik tranparan untuk menghindari serangan hama belalang.
Kantung-kantung ditempatkan dengan jarak antar polibeg 15 x 30 cm.  Pemeliharaan meliputi kegiatan penyiraman, penyiangan gulma, serta pengendalian hama dan penyakit. Penyiraman dilakukan dengan melakukan penimbangan terlebih dahulu untuk menentukan jumlah air yang harus ditambahkan. Hal tersebut dimaksud untuk mempertahankan kondisi kapasitas lapang.Kegiatan penyiraman dilakukan setiap pagi hari dengan cara menyiramkan air ke dalam polibeg yang sebelumnya telah diberi lubang secara merata pada setiap kedalaman media. Pemupukan dilakukan setiap dua minggu menggunakan urea 2 g,  pada satu bibit. Penyiangan gulma dilakukan secara manual yaitu mencabut setiap  gulma dari polibeg kemudian dibenamkan kembali kedalam tanah pada polibeg  tersebut. Pemberian pestisida dilakukan bila terjadi serangan hama dan penyakit.  Pestisida yang dianjurkan adalah dengan bahan aktif Deltrametrin(Decis 2,5 EC), Sihalotrin (Matador 25 EC), dan Dithane  M-45.

Hasil Pembahasan
Hasil analisis terhadap sifat fisik dan kimia Fulventic Eutrudeps Jatinangor. Cara Pembuatan Kompos Limbah Kakao
Alat dan bahan :
Sekop
Kain terpal
Orgadek dengan bahan aktif Trichoderma sp. dan Cytophaga sp.
Papan
Limbah Kakao  603 kg
Proses Pembuatan :
1. Limbah kakao dipotong-potong hingga homogen berukuran lebih kurang 2 cm
2.Campurkan potongan limbah kakao dengan Trichodherma sp. dan Cytophaga sp.sebanyak1,25 % (v/v)., kemudian diaduk dengan limbah kulit buah kakao sebanyak 100 kg sampai merata.
3. Inkubasikan selama satu bulan atau sampai kandungan C/N antara 10 – 20, atau kompos sudah terlihat berjamur dan kering dan tidak berbau.Inkubasi terjadi pada cetakan papan yang dilapisi kain terpal.
4. Selama masa inkubasi, suhu harus di atas 700c. Metode tersebut sesuai dengan anjuran dari Balai Bioteknologi Perkebunan Bogor  Tanah ini memiliki tekstur liat berdebu dan agak masam (pH 5,6), C-organik sebesar 1,55 termasuk kategori rendah, sedangkan kandungan haranya termasuk dalam penilaian kesuburan kimia yang rendah. 
Kascing juga memiliki kandungan hara yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan KBKBK. Kandungan hara (P15 2O5, KO) yang tinggi dan didukung KTK yang tinggi menyebabkan kascing dapat mensuplai unsur hara tambahan yang lebih tinggi. Suhu rata-rata, Kelembaban Nisbi rata-rata dan Curah Hujan Januari Februari Maret April:

Suhu rata rata (0C) 23,9 23,8 24,2 24,1
Suhu Maksimum rata rata (0C) 28,9 29,4 29,3 29,1
Suhu Minimum rata rata (0C) 18,9 19,1 19,7 19,1
Kelembaban Nisbi rata-rata (%) 81 81 80 80
Curah Hujan rata-rata (mm) 16,4 20 13,8 6,8

Kemasaman Tanah (pH tanah)
Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa terjadi interaksi yang nyata antara KKBKK dengan kascing.Secara mandiri perlakuan dosis kompos berpengaruh nyata terhadap pHtanah . Setiap kenaikan dosis kompos, berpengaruh nyata terhadap peningkatan pH tanah mendekati pH 7 (netral), sehingga kisaran pH tersebut dianggap baik dan optimal untuk pertumbuhan bibit kakao. Namun demikian, baik KBKBK dan kascing merupakan muatan tidak tetap (variabel), artinya setiap kenaikan atau penurunan pH tanah tidak selalu memiliki korelasi terhadap perbaikan kesuburan tanah. 

C-organik
Hasil analisis statistik pengaruh KBKBK dengan kasing terhadap C-organik menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi yang nyata. Hal ini diduga Faktor perlakuan dosis KBKBK memberikan pengaruh nyata terhadap C-organik. Efek mandiri (Tabel 2) pada dosis KBKBK memperlihatkan bahwa setiap peningkatan dosis KBKBK berpengaruh nyata terhadap peningkatan Corganik. Dosis 2,51 kgper polibeg memiliki persen C-organik tertinggi dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya, kecuali dosis 1,67 kg per polibeg.
Produk dekomposisi bahan organik merupakan sumber energi bagi mikroorganisme tanah untuk pembentukan sel tubuhnya.  Hal ini mengandung arti bahwa bahanorganik tanah meningkatkan populasi mikroorganisme tanah. Menurut Buckman and Brady (1982) populasi mikroorganisme tanah meningkat dengan adanya penambahan bahan organik ke dalam tanah ditinjau dari peredaran CO2. Kadar bahan organik ini sidah akan memperbaiki struktur tanah, biologi tanah, absorpsi hara, dan daya simpan lengas tanah. Tingginya kemampuan absorpsi menandakan bahwa daya pegang tanah terhadap unsur-unsur hara cukup tinggi dan selanjutnya melepaskannya untuk diserap akar tanaman.



Kapasitas Tukar Kation (KTK)
Tidak terjadi interaksi yang nyata antara KBKBK dan kascing terhadap  KTK tanah.Hal ini dikarenakan proses dekomposisi KBKBK dan kascing belum banyak menghasilkan humus yang mempunyai gugus karboksil (-COOH ↔ COO- + H+) dan phenol (-C6H4O- ↔ -C).  Berdasarkan efek mandiri kedua faktor perlakuan tersebut, baik KBKBK maupun kascing tidak menunjukkan angka beda nyata pada seluruh level dosis.  KTK tanah awal yang cukup tinggi diduga telah mempengaruhi pada kesimbangan hara di dalam tanah oleh tanaman bibit kakao untuk tumbuh dengan optimal, sehingga berapapun peningkatan dosis kedua bahan organik tersebut, tidak akan mempengaruhi KTK tanah, artinya secara teoritikal tetap tinggi.

Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
Berdasarkan telaah hasil penelitian mengenai pengaruh kompos bioaktif kulit buah kakao dan kascing terhadap pertumbuhan bibit kakao, dapat disimpulkan  sebagai berikut :
(1)   Pemberian kompos bioaktif kulit buah kakao dengan kascing tidak memberikan  pengaruh interaksi nyata terhadap pH tanah, C-organik, dan KTK tanah. Secara mandiri, kompos bioaktif kulit buah kakao memberikan pengaruh nyataterhadap perbaikan pH tanah dan C-organik, sedangkan pemberian kascing tidak memberikan pengaruh nyata terhadap ketiga variabel sifat kimia Fluventic Eutrudepts.
(2)   Pemberian kompos bioaktif kulit buah kakao 2,51 kg per polibeg memberikan pH tanah dan C-organik tertinggi masing-masing sebesar 6,9613 dan 4,844%,atau meningkat 50,80% dan 159% jika dibandingkan dengan kontrol.
Saran
Hasil penelitian menunjukkan pengaruh KBKBK terhadap pH dan C-organik meningkat kearah yang lebih baik, sedangkan kascing pengaruhnya belum cukup nyata terhadap perbaikan sifat kimia Fluventic Eutrudepts, hal ini diakibatkan rendahnya dosis yang diberikan dan tingginya curah hujan.  Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan dosis kascing yang ditingkatkan, yaitu diatas 30 g per polibeg.




DAFTAR PUSTAKA
Aris wibawa. 1993. Pengaruh Pengapuran dan Pemupukan NPK terhadap Pertumbuhan Bibit Kakao pada Medium Tanah Gambut. Pelita Perkebunan 8 (4), 85-90.
Farida Ariyani. 1996. Pertumbuhan dan Hasil Tomat (Lycopersicon esculentum Mill.) dengan Perlakuan MVA dan Pupuk Organik Kascing pada Ultisol.Tesis Pasca Sarjana Universitas Padjadjaran.
Hermawan, D. Cikman. L. Rochmalia, D.H. Goenadi. 1999. Produksi Kompos 
Bioteknologi Perkebunan Untuk Praktek. Asosiasi Penelitian Perkebunan Indonesia Unit Penelitian Bioteknologi Perkebunan.
Hutcheon, W.V. 1975. The Water Relation of Cocoa. Rep. Cocoa Res. Inst. Ghana 149-165.
Iswandi Anas. 1990.  Metode Penelitian Cacing Tanah dan Nematoda. PAU-IPB.  Bogor.
Mul Mulyani. 1995. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta. Jakarta.
Pusat Penelitian Kopi dan Kakao. 1997. Pedoman Teknis Budidaya Tanaman Kakao.Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember.
Raden I. 1999. Pertumbuhan dan Hasil Bawang merah (Allium ascalonicum L.) pada
Pertumbuhan Semaian yang Dihasilkan di Kaliwining. Pelita Perkebunan 5(4): 106-112. Soedarsono, Soetanto Abdoellah, Endang Aulistyowati. 1997.  Penebaran Kulit Buah Kakao Sebagai Sumber Bahan Organik Tanah dan Pengaruhnya terhadap Produksi Kakao.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar